Reorientasi BEM sebagai wadah berhimpun MAHASISWA
>> Kamis, 29 Maret 2012
Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) dalam posisinya sebagai eksekutor kebijakan dalam lingkup kampus dewasa ini seperti kehilangan jatidirinya. BEM yang dipercaya sebagai kekuatan tertinggi mahasiswa seolah tak punya taring lagi. Ada dan tiadanya sama saja. Ada BEM, tak diasa manfaatnya, Tiadapun BEM, tak ada ruginya bagi mahasiswa. Justru yang muncul adalah kekuatan lain di luar BEM yang mendominasi hampir di setiap lini di kampus ini.
BEM dengan nama besarnya lebih dikenal dengan “pertandingan Futsal” dan “Aksi turun ke Jalan” saja. Sepi dari kegiatan-kegiatan yang mengakomodir kepentingan, minat dan bakat mahasiswa. Kita tak menafikan adanya program kerja BEM. Namun lebih dari itu, BEM seharusnya bisa berbuat lebih banyak dengan komposisi kepengurusan seperti saat ini. Mengakomodasi kebutuhan mahasiswa tak hanya berarti evaluasi seputar “dana praktikum” dan “kebijakan pemerintah” saja.
Seyogyanya sebagai Eksekutor dan sentral segala kegiatan mahasiswa,BEM mampu memberikan sesuatu yang spektakuler bagi mahasiswa tersebut. Tak hanya berkutat dengan agenda yang dianggap mungkin berhasil saja, namun juga harus bergerak untuk suatu yang belum pasti. Kreatifitas dan inovasi suatu yang mutlak bagi BEM. Hal ini bukan suatu yang sulit bagi BEM yang dihuni oleh berbagai latar belakang bidang di kementeriannya. Namun kodisi yang kita hadapi saat ini justru sebaliknya.
Melihat kondisi saat ini, BEM seperti kehilangan orientasi. BEM tergerus oleh kepentingan politik sebagian orang yang mencoba mendominasi Lembaga Pemerintahan Mahasiswa ini. Membuat suatu program yang hanya dirasakan wujudnya oleh sebagian kalangan saja. Akibatnya BEM tak lagi independen merangkul semua kepentingan mahasiswa untuk kemajuan kampus. Sehingga rancangan program di awal yang luar biasa menjadi berubah orientasinya.
Politik memang tak bisa dilepaskan dari keberadaan BEM. Namun politik bukanlah orientasi dari keberadaan BEM tersebut. Setelah berada dalam BEM, maka hak seluruh mahasiswa mutlak diperjuangkan. Tak hanya bagi sebagian kalangan tertentu yang bernuansa politis. Jika demikian, BEM tak ubahnya hanyalah miniatur negara ini yang semakin bobrok dengan para penguasanya yang tak berbobot. Menjadi percuma teriakan gugatan pada pemerintah, sementara kita tak becus memerintah di kampus kecil ini.
Kini saatnya kedepankan intelektualitas. Tak lagi melakukan sesuatu yang “biasa dan sudah terbaca”. Namun lakukan yang “luar biasa dan berefek ganda”. Untuk sekedar Protes semua orang bisa, tapi hanya sedikit yang bisa melakuakan “taste”. Talk less Do More. Menuntut hak, semua bisa. Berbuat untuk perubahan tanpa mengharap imbalan, sulit menemukannya.
0 komentar:
Posting Komentar