Baru sebuah Langkah Awal

>> Kamis, 14 Juli 2011

Sore itu setelah sholat asar berjamaah di masjid IAIN telanaipura, kami (syaiin, taufiq, Alif, hamadi, ahmad, n saya) bergegas menuju sekretariat baru. Rencananya mau GORO bersih-bersih sekre setelah tertunda kemarin. Rencana awalnya pada hari selasa yang kebetulan libur Waisak (kadernya ga’ ada yang ke wihara). Namun pada hari itu ternyata sudah banyak agenda yang direncanakan. Mulai MUBES KSS, rapat LDF Asy-Syifa, rapat BPH KAMMSAT. Sebuah perjuangan untuk perubahan yang lebih baik, insya Allah. Alhamdulillah Allah memberikan kesempatan beberapa kader untuk meluangkan waktunya sore itu untuk menunaikan agenda perdana di sekre baru.
Sebelum menuju sekre, kami sempatkan mengambil warisan leluhur yang ssempat dititipkan karena sekre lama habis kontraknya. Setibanya di sekre, kami serahkan warisan leluhur tersebut kepada penghuni untuk diletakkan sebagaimna mestinya. Setelah itu kami langsung menuju halaman depan. Target awal GORO sore itu perbaikan jalan. Dengan semangat 2011 kami mencoba memberikan pelayan terbaik untuk jalan itu. Demi niat kami untuk menanam jariyah dan 
memudahkan pengguna jalan. Sesekali lewat orang –orang yang rata-rata mahasiswa di jalan yang kami perbaiki.
Suatu yang baik, insya allah akan disambut baik pula. Tak disangka, tetangga kami cukup respek dengan kegiatan kami. Merekapun bergabung untuk gotong royong. Sambil sedikit gaya merutuk, tante tetangga sekre berkata “katonyo kemaren, di tunggu-tunggu dak ado”. Kami hanya tersenyum dan beralasan banyak kegiatan. Biasalah, mahasiswa.
Setelah beberapa kali bongkar pasang, akhirnya perbaikan jalan sudah bisa di nikmati. Kami mencoba membersihkan hal-hal yang tak enak di pandang di depan dan di sampingnya. Teman-teman sepertinya sudah mulai kecapaian. Keringat membanjiri tubuh. Rasanya cairan di dalam tubuh ini semakin banyak keluar.  Perlu isi ulang cairan agar kami tetap bisa melanjutkan kerja kami. Akhwat yang beberes di bagian dalam ternyata sudah menyiapkan kajang hijau dalam mangkuk serta air buah (isinya kates doang, yang lain belum panen). Namun, kami tak berhenti bekerja. Tanggung, fikirku.
Kami terus melanjutkan kerja kami sebelum nanti menikmati hidangan istimewa di sore yang cerah itu. Tampak beberapa akhwat sudah mulai meninggalkan lokasi. Mungkin rumahnya jauh dan tak bisa pulang terlalu sore. Takut ketinggalan taksi kali ya?. Tengah asyik bekerja dengan badan yang sudah mulai kelelahan tiba-tiba datang seorang laki-laki ke tempat kami gotong royong.
“ ini ngapo di timbun-timbun???ini bukan jalan ni. Jalan lewat sebelah sano.ini nak dijadikan halaman be.bongkar be”. Kata lelaki itu.
Sontak kami semua terkejut mendengar itu. Ada yang salah sepertinya. Entah kami yang salah, atau mungkin bapak itu. Jelas yang kami perbaiki adalah jalan yang sering dilewati, kondisinya sangat membahayakan pengguna motor khususnya. Anak kecilpun tau kalo itu adalah jalan. Tapi, kenapa ni bapak kok bilang “bukan jalan” dan menunjukkan yang jalan adalah bagian tanah yang berada di samping jalan.
Kamipun bingung. Sebagian ada yang nyeletuk “lho kok, kan ini jalan pak!”. Seraya menunjuk jalan yangtak di anggap jalan oleh beliau.
Ia tetap ngotot mengatakan bahwa itu bukan jalan. Ia juga berusaha membongkar yang sudah kami perbaiki tadi. Kawan- kawan berusaha mencegahnya, bahkan istri sang bapak itu juga muncul dan berusaha menjelaskan pada suaminya. Namun, mungkin entah kenapa ia tetap ngotot. Bahkan ketika kukatakan. “ kan belum mau di cor juga pak, untuk sementaro dak papo la jaln ni dulu. Ntar kalo la di cor, boleh kito bongkar”.
Namun ia tetap ngotot. “ngapo pulak kito yang ngecor??” katanya.
Bahkan ia meminta cangkul yang berada di tanganku untuk memudahkan niatnya membongkar jalan tersebut. Tak cukup hanya itu, ia juga mencoba menghancurkan bagian jalan yang lain. Teman-teman yang tak terima masih berusaha mencegah bapak itu. Namun aku cegah mereka. “biarlah”. Kataku.
Setelah bertanya pada akhwat penunggu sekre, kami baru tau kalau ternyata bapak itu adalah pemilik rumah yang kami jadikan sekre. Ternyata tak hanya kami (ikhwan) yang heran. Penunggu sekrepun juga tak menyangka hal tersebut. Karena selama disana, bapak pemilik itu cukup baik.
Kami hanya diam menyaksikan apa yang terjadi didepan kami. Pekerjaan yang telah kami kerjakan dengan semangat tinggi, dihancurkan dalam hitungan detik. Sedih dan sedikit kecewa memenusuk hati . Rasanya tak ada lagi yang bisa di lakukan untuk menyelesaikan pekerjaan itu. Kukatakan pada diriku dan teman-teman “innamal a’malu binniyat, yang penting niatnya dan kita sudah berusaha”.
Daripada memikirkan “pembongkaran” yang menambah kelelahan kami, lebih baik menikmati hidangan yang sudah tak sabar santap. Sambil menikmati semangkuk kacang hijau dan segelas air buah kami berceengkrama daan menertawakn apa yang baru saja terjadi. Sementara itu, sang bapak yang mengambil alih pekerjaan kami terus membersihkan “jalan”.
Usai menikmati hidangan, kami bersiap pulang. Kukatakan pada ahmad “mad, pamitan dulu samo bapak tu!”
“dak ah kak” katanya. Ia lalu memacu motornya,pulang.
Kukatakan lagi hal yang sama pada syaiin untuk pamitan pada sang bapak. Aku pun berpamitan pada beliau. Ia hanya melihat sebentar seraya menganggukkan kepala. Tampaknya ia sedikit bingung, mungkin bertanya-tanya “kok berhenti dan pergi semua?”
Kepada penunggu sekre kupesankan untuk bertanya terlebih dahulu jika ada yang ingin kita “poles” di rumah ini. Jangan sampai hal yang baru saja terjadi, terulang kembali. Mungkin perlu pendekatan pada bapak sang pemilik rumah agar tak terkesan sok tau deng milik beliau. Tak mengapa niat baik itu tertunda untuk meningkatkan nilai kemaslahatannya.
Akhirnya kami berfikir,ini merupakan pelajaran berharga bagi kami. Bahwa masih ada objek dakwah diluar kampus yang tetap harus di hadapi. Bahwa bertambah karakter calon mad’u yang harus dihadapi. Bahwa ternyata kita belum cukup belajar ikhlas menghadapi usaha mengajak manusia pada kebaikan. Dan yang paling penting kami telah berusaha menjalan kan “ta’awanu ‘alal birri wattaqwa”dan kami cukup sadar bahwa “al-insanu mahallul khotho’i wanisyani”.wallahu ‘alimul hakim

0 komentar:

About This Blog

Lorem Ipsum

  © Blogger templates Palm by Ourblogtemplates.com 2008

Back to TOP