Rekonstruksi semangat “Mahasiswa Bersatu, Tak Bisa terkalahkan”
>> Kamis, 29 Maret 2012
Jargon diatas masih sering kita dengar ketika para mahasiswa turun ke jalan. Aksi meneriakkan aspirasinya. Sejenak menarik perhatian pemerintah yang tengah disibukkan dengan SKPD dan kunjungan sana-sini. Media massa pun turut andil mengekspos teriakan-teriakan pemuda ini. Mencuri sedikit perhatian masyarakat, lalu berkomentar “ dak katek gawe”.
Ketika kembali ke kampus, jargon tersebut menjadi rancu. Seolah hanya sebuah kalimat ambigu yang latah diucapkan oleh para mahasiswa. Realita tak seindah kata-kata. Fakta tak hendak bersahabat dengan statemen jargon tersebut. Yang kita temui adalah saling tindih kepentingan. Latar belakang organisasi menjadi alasan. Al-wala’ wa al-Baro’ seperti salah alamat. Akibatnya apa??? Kepentingan bersama menjadi terbaikan.
Demi eksisitensi organisasi, tak jarang kepentingan bersama dinomorduakan. Asalkan tetap berkuasa, segala hal menjadi halal. BEM dihuni oleh satu warna dan satu suara. Seolah sudah mewakili semua suara mahasiswa, ternyata sebagiannya pun tidak.
Masalahnya bukan tentang “kesamaan akan mempermudah pencapaian tujuan”, tapi tentang “ perbedaan yang mebawa kemakmuran”. Pengakomodiran pulralitas dikalangan mahasiswa menjadi suatu yang tak bisa dinafikan keberadaannya. Menganggapnya tiada sama saja memancing api kecil dengan minyak tanah. Karena tak jarang kita lihat, minoritas yang potensial tapi terabaikan bisa mengalahkan mayoritas yang arogan. Ingat!!! Yang arogan...
Kiranya perlu bagi kita sebagai Mahasiswa merekonstruksi ulang semangat tersebut. Semangat kebersatuan dan kebersamaan. Mengedepankan semangat untuk kemajuan bersama. Meninggalkan ego komunitas ketika berada dalam kepentingan umum. Bolehlah kita punya visi dan misi tertentu , tapi tentu harus cakap menempatkannya. Membangun Kabinet yang benar-benar “bersatu”, bukan hanya jargon semata.
Mahasiswa perlu bangkit dari perangkap perbedaan ini. Khawatir dengan intervensi, malah melakukan intervensi. Perbedaan tentu bukan untuk ditakuti dan kemudian disingkirkan. Menyatukan perbedaan dan kemudian menjadikannya sebagai spirit kebangkitan. Agaknya mengingat semboyan “Bhineka tunggal ika” perlu juga bagi kita. Sehingga masyarakat tak lagi mencemooh teriakan-teriakan mahasiswa sebagai kicauan gagak belaka.
Merangkul semua kalangan menjadi suatu yang mutlak dan harus di kampus ini. Jika kita tak ingin terpuruk dalam konflik internal. Terjebak dalam efek samping politik praktis di ranah kampus. Karena kampus sebagai laboratorium peradaban tak boleh menghasilkan para perusak bangsa ini.
oleh Ketua Umum
0 komentar:
Posting Komentar