Rekonstruksi semangat “Mahasiswa Bersatu, Tak Bisa terkalahkan”
Jargon diatas masih sering kita dengar ketika para mahasiswa turun ke jalan. Aksi meneriakkan aspirasinya. Sejenak menarik perhatian pemerintah yang tengah disibukkan dengan SKPD dan kunjungan sana-sini. Media massa pun turut andil mengekspos teriakan-teriakan pemuda ini. Mencuri sedikit perhatian masyarakat, lalu berkomentar “ dak katek gawe”.
Ketika kembali ke kampus, jargon tersebut menjadi rancu. Seolah hanya sebuah kalimat ambigu yang latah diucapkan oleh para mahasiswa. Realita tak seindah kata-kata. Fakta tak hendak bersahabat dengan statemen jargon tersebut. Yang kita temui adalah saling tindih kepentingan. Latar belakang organisasi menjadi alasan. Al-wala’ wa al-Baro’ seperti salah alamat. Akibatnya apa??? Kepentingan bersama menjadi terbaikan.
Demi eksisitensi organisasi, tak jarang kepentingan bersama dinomorduakan. Asalkan tetap berkuasa, segala hal menjadi halal. BEM dihuni oleh satu warna dan satu suara. Seolah sudah mewakili semua suara mahasiswa, ternyata sebagiannya pun tidak.
Masalahnya bukan tentang “kesamaan akan mempermudah pencapaian tujuan”, tapi tentang “ perbedaan yang mebawa kemakmuran”. Pengakomodiran pulralitas dikalangan mahasiswa menjadi suatu yang tak bisa dinafikan keberadaannya. Menganggapnya tiada sama saja memancing api kecil dengan minyak tanah. Karena tak jarang kita lihat, minoritas yang potensial tapi terabaikan bisa mengalahkan mayoritas yang arogan. Ingat!!! Yang arogan...
Kiranya perlu bagi kita sebagai Mahasiswa merekonstruksi ulang semangat tersebut. Semangat kebersatuan dan kebersamaan. Mengedepankan semangat untuk kemajuan bersama. Meninggalkan ego komunitas ketika berada dalam kepentingan umum. Bolehlah kita punya visi dan misi tertentu , tapi tentu harus cakap menempatkannya. Membangun Kabinet yang benar-benar “bersatu”, bukan hanya jargon semata.
Mahasiswa perlu bangkit dari perangkap perbedaan ini. Khawatir dengan intervensi, malah melakukan intervensi. Perbedaan tentu bukan untuk ditakuti dan kemudian disingkirkan. Menyatukan perbedaan dan kemudian menjadikannya sebagai spirit kebangkitan. Agaknya mengingat semboyan “Bhineka tunggal ika” perlu juga bagi kita. Sehingga masyarakat tak lagi mencemooh teriakan-teriakan mahasiswa sebagai kicauan gagak belaka.
Merangkul semua kalangan menjadi suatu yang mutlak dan harus di kampus ini. Jika kita tak ingin terpuruk dalam konflik internal. Terjebak dalam efek samping politik praktis di ranah kampus. Karena kampus sebagai laboratorium peradaban tak boleh menghasilkan para perusak bangsa ini.
oleh Ketua Umum
Reorientasi BEM sebagai wadah berhimpun MAHASISWA
Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) dalam posisinya sebagai eksekutor kebijakan dalam lingkup kampus dewasa ini seperti kehilangan jatidirinya. BEM yang dipercaya sebagai kekuatan tertinggi mahasiswa seolah tak punya taring lagi. Ada dan tiadanya sama saja. Ada BEM, tak diasa manfaatnya, Tiadapun BEM, tak ada ruginya bagi mahasiswa. Justru yang muncul adalah kekuatan lain di luar BEM yang mendominasi hampir di setiap lini di kampus ini.
BEM dengan nama besarnya lebih dikenal dengan “pertandingan Futsal” dan “Aksi turun ke Jalan” saja. Sepi dari kegiatan-kegiatan yang mengakomodir kepentingan, minat dan bakat mahasiswa. Kita tak menafikan adanya program kerja BEM. Namun lebih dari itu, BEM seharusnya bisa berbuat lebih banyak dengan komposisi kepengurusan seperti saat ini. Mengakomodasi kebutuhan mahasiswa tak hanya berarti evaluasi seputar “dana praktikum” dan “kebijakan pemerintah” saja.
Seyogyanya sebagai Eksekutor dan sentral segala kegiatan mahasiswa,BEM mampu memberikan sesuatu yang spektakuler bagi mahasiswa tersebut. Tak hanya berkutat dengan agenda yang dianggap mungkin berhasil saja, namun juga harus bergerak untuk suatu yang belum pasti. Kreatifitas dan inovasi suatu yang mutlak bagi BEM. Hal ini bukan suatu yang sulit bagi BEM yang dihuni oleh berbagai latar belakang bidang di kementeriannya. Namun kodisi yang kita hadapi saat ini justru sebaliknya.
Melihat kondisi saat ini, BEM seperti kehilangan orientasi. BEM tergerus oleh kepentingan politik sebagian orang yang mencoba mendominasi Lembaga Pemerintahan Mahasiswa ini. Membuat suatu program yang hanya dirasakan wujudnya oleh sebagian kalangan saja. Akibatnya BEM tak lagi independen merangkul semua kepentingan mahasiswa untuk kemajuan kampus. Sehingga rancangan program di awal yang luar biasa menjadi berubah orientasinya.
Politik memang tak bisa dilepaskan dari keberadaan BEM. Namun politik bukanlah orientasi dari keberadaan BEM tersebut. Setelah berada dalam BEM, maka hak seluruh mahasiswa mutlak diperjuangkan. Tak hanya bagi sebagian kalangan tertentu yang bernuansa politis. Jika demikian, BEM tak ubahnya hanyalah miniatur negara ini yang semakin bobrok dengan para penguasanya yang tak berbobot. Menjadi percuma teriakan gugatan pada pemerintah, sementara kita tak becus memerintah di kampus kecil ini.
Kini saatnya kedepankan intelektualitas. Tak lagi melakukan sesuatu yang “biasa dan sudah terbaca”. Namun lakukan yang “luar biasa dan berefek ganda”. Untuk sekedar Protes semua orang bisa, tapi hanya sedikit yang bisa melakuakan “taste”. Talk less Do More. Menuntut hak, semua bisa. Berbuat untuk perubahan tanpa mengharap imbalan, sulit menemukannya.
Langganan:
Komentar (Atom)