Elit, Pemuda dan Perubahan Sosial Perspektif Idealistis

>> Senin, 07 Maret 2011

Oleh : M. Amrullah



Pemuda merupakan “Agent of change”. Sebuah kalimat yang senantiasa didengung-dengungkan oleh mayoritas orang pada saat ini. Agent of change juga di jadikan sebagai alasan pembenaran bagi para pemuda untuk membentuk suatu kondisi sosial sesuai dengan ideologi mereka. Namun tak jarang kalimat ini hanya sebagai bentuk pembelaan diri Pemuda atas protes manusia terhadap perbuatan mereka.
Sebagai “Agent of change” tentu Pemuda tidak hanya bergerak sendiri, namun ia memerlukan orang lain. Baik itu dari kalangan pemuda itu sendiri, Masyarakat, maupun Elit Masyarakat. Hubungan paling penting yang terjadi para pemuda dalam mebentuk sebuah perubahan adalah dengan kalangan elit Masyarakat. Hal ini terjadi karena penentu sebuah kebijakan sringkali, bahkan selalu bergantung pada Elit Tersebut.
 Terkait Hubungan Pemuda dan Elit Masyarakat ini, tak hanya terbatas pada satu Elit saja. Namun, setiap kategori elit boleh jadi mempengaruhi perubahan yang dilakukan leh pemuda ini. Elit ini dapat berupa elit Politik, elit Agama, dan lain-lain. Hubungan tersebut dapat terjadi dengan berbagai dinamika dan bentuk. Dalam hal ini, kita akan melihat keterkaitan elit dan pemuda perspektif idelistis.
Elit, siapakah itu?
Menurut Karl Mannheim, dalam masyarakat demokratis dunia modern terdapat bermacam-macam elit, yang terpenting adalah Elit Politik, organisator, intelektual, seniman, moralis, dan elit agama. Berarti, didalam Masyarakat tak hanya ada satu macam elit saja, seperti yang kita ketahui selama ini, yaitu elit Pemerintahan. Karl Mannheim juga mengatakan bahwa aktivitas elit mempengaruhi proses perubahan.
Elit sebuah masyarakat adalah sebuah kelompok yang heterogen. Seperti dinyatakan Bottomore, istilah elit digunakan untuk kelompok-kelompok fungsional, terutama kelompok mata pencaharian yang statusnya tinggi di kalangan Masyarakat. Tokoh agama di Sebuah Desa, Rektor di Universitas, Jajaran Direksi di sebuah Perusahaan adalah contoh elit.
Dalam sebuah perubahan sosial, elit memiliki peranan yang tak bisa dibilang kecil. Seperti yang kita ketahui sebelumnya, elit sangat mempengaruhi jalannya proses perubahan. Peranan elit dalam perubahan ini boleh jadi mempercepat atau bahkan memperlambat terjadinya perubahan. Elit inilah yang bertanggung jawab terhadap perubahan yang terjadi di Masyarakat.
Pemuda
Sebuah Perubahan sosial tak akan terlepas dari satu komponen pentingnya, yaitu Pemuda. Tanpa adanya Pemuda Perubahan tidak bisa terlaksana,. Demikian Pentingnya peranan pemuda dalam membentuk sebuah perubahan di masyarakat. Kita kemudian akan bertanya-tanya, siapakah Pemuda ini?
Pemuda, ialah manusia yang berada pada tingkatan umur antara remaja  dan orang tua. Bisa dikatan disini bahwa Pemuda yaitu seorang yang berada pada rentang umur 18-35 tahun. Kesimpulan ini diambil karena Pemuda berada pada usia produktif dan agresif, dan usia yang dimaksudkan tersebut umur + 25 tahun. Dalam rancangan Undang-undang tentang kepemudaan, definisi pemuda adalah orang yang berusia 18 s.d 35 tahun. Tentu penetapan margin usia ini telah melampaui kajian akademis untuk mendapatkan rumusan yang tepat bagi kondisi demografi kepemudaan di tanah air.
Sebuah pertanyaan muncul terkait dengan Pemuda dan Perubahan sosial, Mengapa Pemuda yang tidak memiliki kekuasaan menjadi sangat penting dalam sebuah perubahan?? Pertanyaan tersebut tentu tidak bisa kita jawab hanya dengan sepatah dua patah kata saja, Namun perlu penjabaran panjang dan studi kasus tentang hal ini. Tapi, secara kasat mata kita dapat melihat bagaiman peranan Pemuda ini menjadi sangat penting melalui berbagai macam kejadian yang di motori oleh gerakan Pemuda.
Usia yang masih muda serta tanggung jawab yang masih sedikit menjadi salah satu factor mengapa Perubahan bergantung pada pemuda. Dengan usia mudanya, pemuda bisa bergerak lebih cepat daripada orang tua. Otaknya yang masih encer, serta gejolak dalam diri yang selalu ingin bergerak dan mencoba sesuatu. Munculnya kepedulian sosial terhadap sekelilingnya sebagai akibat dari pembelajarannya. Pertimbangan yang tidak terlalu panjang sebagai bentuk “kurang pengalaman” pemuda juga menjadi sebab bergeraknya Pemuda.
Selain itu masih banyak lagi alasan mengapa Pemuda menjadi ikon penting Perubahan yang terjadi di berbagai tempat. Seperti, gejolak darah muda, perbedaan pendidikan yang didapatkan dengan Elit penguasa, perkembangan ideologi-ideologi, rasa ingin menciptakan prestise, dan lain-lain.
Namun, sebagaimana Elit, Pemuda juga memiliki kategori-kategori yang membedakan antara satu pemuda dengan lainnya. Secara garis besar Pemuda dibedakan antara pemuda konservativ dan Pemuda radikal. Secara khusus, melihat peranan Pemuda di Indonesia, Pemuda di bedakan antara yang mendapatkan pendidikan di Perguruan tinggi dengan Pemuda yang bekerja I usia yang sama. Maksudnya disini ialah antara Mahasiswa dan non mahasiswa.
Banyak hal yang membedakan antara Mahasiswa dan non-mahasiswa. Namun disini kita akan melihat sebuah perbedaan mencolok antara keduanya dalam menanggapi isu sosial dan peranannya dalam proses perubahan sosial. Pemuda nonmahasiswa cenderung acuh terhadap situasi sosial dan mereka lebih disibukan dengan kondisi sosial diri mereka sendiri. Berbeda dengan Mahasiswa, yang pada dasarnya dituntut untuk lebih respek terhadap kondisi sosial di sekeliling mereka. Dari sisi Pendidikan pun, Mahasiswa diajarkan dengan berbagai masalah yang harus di hadapi yang mana mereka berperan penting dalam  masalah tersebut.
Dalam Islam sendiri, Pemuda mendapat perhatian khusus. Bagaimana kisah-kisah Pemuda yang sukses menjadi Pemimpin di dalam Al-Quran dan Hadits. Seperti Nabi Ibrahim yang tehadap ayahnya, Nabi Yusuf, sahabat Ali bin Abi Thalib, dan lain-lain. Secara khusus, Pemuda juga memiliki keunggulan personal dan mengorganisasi.
Ide sebagai sebuah pendekatan sosial
Dalam teori perubahan sosial terdapat dua pendekatan besar yaitu perspektif materialistis dan pendekatan idealistis. Perspektif materialistis merupakan sebuah pendekatan yang mana materi dianggap sebagai factor yang paling berpengaruh terhadap sebuah perubahan sosial. Bukan berarti menafikan peran faktor lainnya, namun dalam pendekatan ini lebih menekankan peranan materi.
Serupa dengan Perspektif Materialistis, Perspektif Idealistis menekankan Ideologi sebagai sebuah factor utama di atas matri dan lainnya yangmempengaruhi perubahan sosial.  Bapak Sosiologio, Auguste Comte, mengatakan bahwa sejarah manusia harus dipahami menurut sejarah pemikiran manusia.Whitehead menyatakan bahwa sumber ide itu ada namun ia lebih menekankan kekuatan ide dalam evolusi peradaban.
Dialektika, sebagai sebuah cara berfikir dan inti realitas, termasuk pengalaman terhadap realitas, terjadi dalam perkembangan sebuah semangat zaman. Dialektika yang dimaksud terjadi pada tingkat kesadaran “dalam diri sendiri” ke tingkat keaadaran “ untuk diri sendiri”. Maksudnya disini bahwa individu dan ide menjadi alat semangat yang dapat menimbulkan perubahan sosial. Sehingga dapat disimpulkan, tanpa ide tidak akan ada perubahan.
Muncul pertanyaan dalam diri kita, apakah ide selalu memberikan perubahan?? Melihat berbagai macam respon manusia terhadap suatu kondisi sosal, kita dapat mengatakan bahwa ide memang selalu meberikan perubahan. Namun, peranan ide dalam perubahan inilah yang berbeda-beda. Secara garis besar, Idea dapat berperan mencegah, menghalangi, membantu atau mengarahkan perubahan. Artinya, ide tidak serta merta memberikan sesuatu yang berarti bagi perubahan, tapi memerikan pengaruh terhadap proses perubahan.
Ideologi ini bentuknya bermacam-macam, ada ideologi agama, ideologi intelektual, ideologi politik, dan lain-lain.
Ideologi antara Elit dan Pemuda.
Elit dan Pemuda merupakan komponen penting suatu perubahan. Perubahan yang terjadi tak dapat dipisahkan dari dua peran ini. Hungan antara dua komponen ini bisa saja saling menguntungkan atau bahakan saling bertolakbelakang. Dalam arti lain, bia terjadi pro dan kontra.
Melihat dari Perspektif Idealistis terhadap peranan Elit dan Pemuda dalam Perubahan sosial, tentu kita akan melihat bagaimana Ideologi antara dua kalangan ini mempengaruhi sebuah Perubahan. Tentu saja Ideologi antar dua kalangan ini tidak selamanya sama, seringkali berbeda. Dengan Ideologi inilah, baik kalangan Elit maupun Pemuda menggerakkan suatu proses perubahan. Ideologi ini pula yang menjadi semangat perubahan, walau seringkali materi menjadi kendala.
Sebagai contoh hubungan antara Ideologi, Elit dan Pemuda terhadap sebuah Perubahan, kita dapat melihat pada gerakan pemuda 1998 di Indonesia. Sebagaimana telah kita sebutkan di atas, bahwa pemuda yang memiliki peranan penting dalam sebuah perubahan ialah dari kalangan mahasiswa. Demikian pula yang terjadi pada gerakan penggulingan Suharto oleh Mahasiswa pada tahun 1998.
Mahasiswa dengan kegiatan khususnya menuntut ilmu di Universitas berhadapan dengan berbagai ideologi yang mereka dapatkan di perkuliahan. Secara tidak langsung, ideologi – ideologi tersebut merasuki pikiran mereka bahkan kemudian ada yang tertancap kuat dalam fikirannya. Ideologi inilah yang kemudian menjadi pedoman mereka untuk melihat kondisi sosial di sekelilingnya
Membandingkan antara ideologi yang mereka dapatkan dengan kondisi sosial di Indonesia, Mahasiswa menemukan banyak kejanggalan. Rezim Orde baru yang bercokol pada masa itu telah melampaui batas-batas normal. Mahasiswa berpandangan bahwa mutlak harus ada Perubahan.
Sebenarnya, gerakan mahasiswa ini telah dimulai jauh sebelum runtuhnya rezim Orde Baru pada 1998. Namun hal itu baru benar-benar terwujud pada 1998 ketika berbagai elemen mahasiswa dan masyarakat bersatu padu menggulingkan Suharto. Hal ini terjadi karena sebelumnya gerakan mahasiswa ini masih berjalan sendiri-sendiri dan masih sembunyi-sembunyi.
Dalam kasus ini, Ideologi berperan penting terhadap hubungan antara Elit Orde Baru dan Pemuda yang diwakili oleh Mahasiswa. Dimana peran ideologi tersebut??? Elit Orde Baru, dengan Suharto sebagai actor utamanya telah mengalami berbagai permasalahan selama kepemimpinannya. Krisis moneter di pertengahan tahun 1997 menghancurkan legitimasi kekuasaan rezim Soeharto yang semakin korup, kolutif dan nepotis. Suharto pada masa itu telah menjadikan Negara ini sebagai sebuah ladang pribadinya. Ide Indonesia sebagai Kerajaan Suharto tampaknya semakin kentara. Melalui propaganda Ideologi Pancasilanya Suharto terus merongrong Negeri ini.
Tengah kondisi demikian, rezim Orde Baru terus mengalami berbagai masalah. Rezim ini terasa kian melemah dan situasi global turut mendukung pelemahannya. Hingga pada tahun 1997, krisis moneter menegaskan hancurnya legitimasi rezim ini. Mahasiswa yang sudah cukup lama dirongrong ideologi dan gerakannya oleh rezim Suharto melihat hal ini sebagai peluang menuntut Suharto.
Mahasiswa pada awalnya menuntut reformasi total mengerucutkan tuntutannya pada penggantian kepemimpinan Suharto. Gerakan Mahasiswa mengalami eskalasi setelah terjadi penembakan terhadap 4 orang mahasiswa Universitas Trisakti yang sedang berdemo. Puncaknya pada bulan Mei 1998 dengan menduduki Gedung Parlemen selama 5 hari dan berakhir dengan turunnya Soeharto dari jabatan presiden setelah berkuasa selama 32 tahun.
Ditengah perjuangan menjatuhkan rezim Suharto sebenarnya terjadi berbagai pertentangan ide antar kelompok Mahasiswa satu dan Lainnya. Namun pada akhirnya ide tersebut mengerucut pada satu kesatuan ide bahwa Rezim Orde Baru harus mundur dan Indonesia harus melakukan reformasi. Disini terlihat bahwa Ide sebagai factor penggerak perubahan berperan penting untuk terwujudnya perubahan tersebut. Pemuda, sebagai komponen perubahan dapat disatukan dengan satu ideologi, bukan materi. Artinya disini, peranan ide memiliki jangkauan yang lebih luas daripada materi. Pada tataran ide, status sosial, kaya miskin, tak lagi menjadi penghalang bagi terwujudnya sebuah perubahan.
Islam sebagai Ideologi dan Peranannya terhadap Perubahan sosial, Antara Elit dan Pemuda.
Islam merupakan salah satu bentuk ideologi, yaitu ideologi agama. Dalam sebuah perubahan sosial, ideologi apapun meiliki peran-peran tertentu. Demikian pula agam Islam sebagai sebuah bentuk Ideologi.
Terkait bagaimana Peranan Islam sebagi ideologi yang berperan melakukan sebuah perubahn sosial, kita dapat membaca kembali sejarah Islam. Melalui Pemuda Muhammad SAW, Islam menunjukkan eksistensinya dalam mengadakan perubahan dan perombakan total terhadap tatanan peradaban bangsa Arab Jahiliyah. Dengan diangkatnya derajat wanita, dihapusnya perbudakan, di berantasnya syirik dan lain-lain islam telah sukses menunjukkan bahwa Islam sebagai Ideologi berperan penting terhadap terjadinya perubahan.
Sementara itu, pemuka Quraisy sebaga Elit yang berkuasa pada masa itu terus mengalami penurunan peran. Mereka, para Elit, terus bertahan dengan Ideologi Nenek Moyang mereka, sehingga ketika mereka dikenalkan dengan Islam mereka mengalami shok dan serta merta menolak ideologi yang baru bagi mereka tersebut. Akibatnya dengan berbagai macam propaganda, quraisy terus merongrong Islam. Namun pada Fathu Makkah, akhirnya Islam benar-benar menancapkan Ideologi ini di bumi Arab khususnya dan di berbagai pelosok dunia hingga saat ini.
Dari Kondisi tersebut dapat kita simpulkan bahwa Ideologi Pemuka quraisy merintangi perubahan yang diusung oleh Nabi Muhammad. Ideologi Nenek Moyang merintangi Ideologi Islam. Namun berkat semangat dan keyakinan, Akhirnya Ideologi Islam berjaya menglahkan Ideologi Nenek Moyang kaum jahiliyah.

Islam masa kini, Ideologi dan Solusi Perubahan
Pada masa sekarang , Pemuda Islam mengalami pergolakan batin menghadapi berbagai ideologi yang muncul. Islam tak lagi murni sebagai sebuah Ideologi. Pengkotak-kotakan dan Inovasi yag dilakukan kaum liberal telah mencerai beraikan hal tersebut. Ideologi Islam tak lagi satu kesatuan, namun telah penuh dengan gugatan-gugatan orang-orang tak bertanggung jawab. Akibatnya Pemuda Islam mengalami dilema dan pergolakan batin antara menjadikan Islam sebagai ideologi atau hanya ritual belaka.
Sebagai Mahasiswa yang di daulat sebagai kalangan intelek di tengah masyarakat, layaknya kita jeli menghadapi masalah ini. Mendapati perbuatan orientalis dan antek-anteknya, kita tak lantas menerima begitu saja apa yang di wacanakan oleh mereka. Kita harus teliti melihat mana yang masih murni dari Islam dan mana yang sudah di modifikasi oleh mereka. Untuk itu tentu kita perlu kembali menggali ilmu dan sejarah peraban kita.
Upaya kita dalam mengembalikan kemurnian Islam sebagai Ideologi dan Pedoman hidup memerlukan usaha yang cukup keras. Kita harus menggali kebenaran sejarah yang kita terima, apakah sejarah yang melemahkan tersebuk otentik atau tidak. Kita juga harus memperkaya wawasan intelektual kita agar tak di bodohi oleh mereka para musuh islam. Selain itu, hal yang paling penting dari semualnya yanitu kita harus memperkaya diri kita dengan keimanan dan ketaqwaan.
Melaksanakan perintah wajib saja tak cukup bagi kita,harus di tambah dengan yang sunnah. Mengatahui yang penting saja tak cukup, harus di perkaya dengan segala detailnya. Sebuah hadits, tak cukup diketahu sebagai riwayat Bukhori Muslim saja, Namun ketahui pula keshahihan dan asbabul wurudnya.Ayat Al-Quran tak cukup hafal arabnya saja, Namun disertai makna, tafsir,dan Asbabul Nuzulnya. Dengan demikian kita tak lagi menjadi seorang yang memandang sesuatu secara subjektif, egois, dan picik. Namun kita akan melihat sesuatu itu sebagai sebuah karunia Allah yang memiliki berbagai macam hukmah yang dapat memebrikan perubahan berarti bagi peradaban umat manusia saat ini.
Wallahu A’lam

0 komentar:

About This Blog

Lorem Ipsum

  © Blogger templates Palm by Ourblogtemplates.com 2008

Back to TOP